Cara anamnesis pasien yang baik
Pendahuluan
Bagi para mahasiswa kedokteran saat yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika mereka untuk pertama kalinya mulai berhadapan langsung dengan pasien yang sesungguhnya. Ini adalah saat pertama kalinya mereka merasakan sebagai seorang ‘dokter’. Tetapi ini juga adalah saat yang mendebarkan dan membingungkan karena mereka umumnya belum siap dan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memulai kontak pertamanya dengan seorang pasien.
Pada umumnya kontak pertama antara seorang dokter dan pasien dimulai dari anamnesis. Dari sini hubungan terbangun sehingga akan memudahkan kerjasama dalam memulai tahap-tahap pemeriksaan berikutnya. Dalam menegakkan suatu diagnosis anamnesis mempunyai peranan yang sangat penting bahkan terkadang merupakan satu-satunya petunjuk untuk menegakkan diagosis.
Pengertian Anamnesis
Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.
Tujuan Anamnesis
Tujuan pertama anamnesis adalah memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang dialami atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat maka informasi yang didapatkan akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak jarang hanya dari anamnesis saja seorang dokter sudah dapat menegakkan diagnosis. Secara umum sekitar 60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis yang benar.
Tujuan berikutnya dari anamnesis adalah untuk membangun hubungan yang baik antara seorang dokter dan pasiennya. Umumnya seorang pasien yang baru pertama kalinya bertemu dengan dokternya akan merasa canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga cederung tertutup. Tugas seorang dokterlah untuk mencairkan hubungan tersebut. Pemeriksaan anamnesis adalah pintu pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan dokter dan pasiennya sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk tahap-tahap pemeriksaan selanjutnya.
Jenis Anamnesis
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan.
Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama auto dan alloanamnesis.
Persiapan untuk anamnesis
Anamnesis yang baik hanya dapat dilakukan apabila dokter yang melakukan anamnesis tersebut menguasai dengan baik teori atau pengetahuan kedokteran. Tidak mungkin seorang dokter akan dapat mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya dan akhirnya mengambil kesimpulan dari anamnesis yang dilakukan bila dia tidak menguasai dengan baik ilmu kedokteran. Seorang dokter akan kebingungan atau kehilangan akal apabila dalam melakukan anamnesis tidak tahu atau tidak mempunyai gambaran penyakit apa saja yang dapat menimbulkan keluhan atau gejala tersebut, bagaimana hubungan antara keluhan-keluhan tersebut dengan organ-organ tubuh dan fungsinya. Umumnya setelah selesai melakukan anamnesis seorang dokter sudah harus mampu membuat kesimpulan perkiraan diagnosis atau diagnosis banding yang paling mungkin untuk kasus yang dihadapinya. Kesimpulan ini hanya dapat dibuat bila seorang dokter telah mempersiapkan diri dan membekali diri dengan kemampuan teori atau ilmu pengetahuan kedokteran yang memadai.
Meskipun demikian harus disadari bahwa tidak ada seorang dokterpun yang dapat dengan yakin menyatakan bahwa dia pasti selalu siap dan mampu mendiagosis setiap keluhan pasiennya. Bahkan seorang dokter senior yang sudah berpengalaman sekalipun pasti pernah mengalami kebingungan ketika menghadapi pasien dengan keluhan yang sulit dianalisa.
Cara melakukan anamnesis
Dalam melakukan anamnesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang dokter, antara lain :
1. Tempat dan suasana
Tempat dan suasana dimana anamnesis ini dilakukan harus diusahakan cukup nyaman bagi pasien. Anamnesis akan berjalan lancar kalau tempat dan suasana mendukung. Suasana diciptakan agar pasien merasa santai, tidak tegang dan tidak merasa diinterogasi.
2. Penampilan dokter
Penampilan seorang dokter juga perlu diperhatikan karena ini akan meningkatkan kepercayaan pasiennya. Seorang dokter yang tampak rapi dan bersih akan lebih baik dari pada yang tampak lusuh dan kotor. Demikian juga seorang dokter yang tampak ramah, santai akan lebih mudah melakukan anamnesis daripada yang tampak galak, ketus dan tegang.
3. Periksa kartu dan data pasien
Sebelum anamnesis dilakukan sebaiknya periksa terlebih dahulu kartu atau data pasien dan cocokkan dengan keberadaan pasiennya. Tidak tertutup kemungkinan kadang-kadang terjadi kesalahan data pasien atau mungkin juga kesalahan kartu data, misalkan pasien A tetapi kartu datanya milik pasien B, atau mungkin saja ada 2 pasien dengan nama yang sama persis. Untuk pasien lama lihat juga data-data pemeriksaan, diagnosis dan terapi sebelumnya. Informasi data kesehatan sebelumnya seringkali berguna untuk anamnesis dan pemeriksaan saat ini.
4. Dorongan kepada pasien untuk menceritakan keluhannya
Pada saat anamnesis dilakukan berikan perhatian dan dorongan agar pasien dapat dengan leluasa menceritakan apa saja keluhannya. Biarkan pasien bercerita dengan bahasanya sendiri. Ikuti cerita pasien, jangan terus menerus memotong, tetapi arahkan bila melantur. Pada saat pasien bercerita, apabila diperlukan ajukan pertanyaan-pertanyaan singkat untuk minta klarifikasi atau informasi lebih detail dari keluhannya. Jaga agar jangan sampai terbawa cerita pasien sehingga melantur kemana mana.
5. Gunakan bahasa/istilah yang dapat dimengerti
Selama tanya jawab berlangsung gunakan bahasa atau istilah umum yang dapat dimengerti pasien. Apabila ada istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau sulit dimengerti, berika penjelasan atau deskripsi dari istilah tersebut.
6. Buat catatan
Adalah kebiasaan yang baik untuk membuat catatan-catatan kecil saat seorang dokter melakukan anamnesis, terutama bila pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang panjang.
7. Perhatikan pasiennya
Selama anamnesis berlangsung perhatikan posisi, sikap, cara bicara dan gerak gerik pasien. Apakah pasien dalam keadaaan sadar sepenuhnya atau apatis, apakah dalam posisi bebas atau posisi letak paksa, apakah tampak santai atau menahan sakit, apakah tampak sesak, apakah dapat bercerita dengan kalimat-kalimat panjang atau terputus-putus, apakah tampak segar atau lesu, pucat dan lain-lain.
8. Gunakan metode yang sistematis
Anamnesis yag baik haruslah dilakukan dengan sistematis menurut kerangka anamnesis yang baku. Dengan cara demikian maka diharapkan tidak ada informasi yang terlewat.
Tantangan dalam Anamnesis
1. Pasien yang tertutup
Anamnesis akan sulit dilakukan bila pasien membisu dan tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dokternya. Keadaan ini dapat disebabkan pasien merasa cemas atau tertekan, tidak leluasa menceritakan keluhannya atau dapat pula perilakunya yang demikian karena gangguan depresi atau psikiatrik. Tergantung masalah dan situasinya kadang perlu orang lain (keluarga atau orang-orang terdekat) untuk mendampingi dan menjawab pertanyaan dokter (heteroanamnesis), tetapi kadang pula lebih baik tidak ada seorangpun kecuali pasien dan dokternya. Bila pasien dirawat di rumah sakit maka anamnesis dapat dilanjutkan pada hari-hari berikutnya setelah pasien lebih tenang dan lebih terbuka.
2. Pasien yag terlalu banyak keluhan
Sebaliknya tidak jarang seorang pasien datang ke dokter dengan begitu banyak keluhan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tugas seorang dokter untuk memilah-milah keluhan mana yang merupakan keluhan utamanya dan mana yang hanya keluh kesah. Diperlukan kepekaan dan latihan untuk membedakan mana yang merupakan keluhan yang sesungguhnya dan mana yang merupakan keluhan mengada-ada. Apabila benar-benar pasien mempuyai banyak keluhan harus dipertimbangkan apakah semua keluhan itu merujuk pada satu penyakit atau kebetulan pada saat tersebut ada beberapa penyakit yang sekaligus dideritanya.
3. Hambatan bahasa dan atau intelektual
Seorang dokter mungkin saja ditempatkan atau bertugas disuatu daerah yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa daerah yang belum kita kuasai. Keadaan semacam ini dapat menyulitkan dalam pelaksanaan anamnesis. Seorang dokter harus segera belajar bahasa daerah tersebut agar dapat memperlancar anamnesis, dan bila perlu dapat meminta bantuan perawat atau petugas kesehatan lainnya untuk mendampingi dan membantu menerjemahkan selama anamnesis. Kesulitan yang sama dapat terjadi ketika menghadapi pasien yang karena intelektualnya yang rendah tidak dapat memahami pertanyaan atau penjelasan dokternya. Seorang dokter dituntut untuk mampu melakukan anamnesis atau memberikan penjelasan dengan bahasa yang sangat sederhana agar dapat dimengerti pasiennya.
4. Pasien dengan gangguan atau penyakit jiwa
Diperlukan satu tehnik anamnesis khusus bila seorang dokter berhadapan dengan penderita gangguan atau penyakit jiwa. Mungkin saja anamnesis akan sangat kacau, setiap pertanyaan tidak dijawab sebagaimana seharusnya. Justru di dalam jawaban-jawaban yang kacau tersebut terdapat petunjuk-petunjuk untuk menegakkan diagnosis. Seorang dokter tidak boleh bingung dan kehilangan kendali dalam melakukan anamnesis pada kasus-kasus ini.
5. Pasien yang cenderung marah dan menyalahkan
Tidak jarang dijumpai pasien-pasien yang datang ke dokter sudah dalam keadaan marah dan cenderung menyalahkan. Selama anamnesis mereka menyalahkan semua dokter yang pernah memeriksanya, menyalahkan keluarga atau orang lain atas masalah atau keluhan yang dideritanya. Umumnya ini terjadi pada pasien-pasien yang tidak mau menerima kenyataan diagnosis atau penyakit yang dideritanya. Sebagai seorang dokter kita tidak boleh ikut terpancing dengan menyalahkan sejawat dokter lain karena hal tersebut sangat tidak etis. Seorang dokter juga tidak boleh terpancing dengan gaya dan pembawaan pasiennya sehingga terintimidasi dan menjadi takut untuk melakukan anamnesis dan membuat diagnosis yang benar.
Sistematika Anamnesis
Sebuah anamnesis yang baik haruslah mengikuti suatu metode atau sistematika yang baku sehingga mudah diikuti. Tujuannya adalah agar selama melakukan anamnesis seorang dokter tidak kehilangan arah, agar tidak ada pertanyaan atau informasi yang terlewat. Sistematika ini juga berguna dalam pembuatan status pasien agar memudahkan siapa saja yang membacanya. Sistematika tersebut terdiri dari :
1. Data umum pasien
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
6. Riwayat kebiasaan/sosial
7. Anamnesis sistem
1. Data umum pasien
a. Nama pasien
Sebaiknya nama lengkap bukan nama panggilan atau alias.
b. Jenis kelamin
Sebagai kelengkapan harus juga ditulis datanya
c. Umur
Terutama penting pada pasien anak-anak karena kadang-kadang digunakan untuk
menentukan dosis obat. Juga dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan
penyakit yang diderita, beberapa penyakit khas untuk umur tertentu.
d. Alamat
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat
sekarang saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya.
Data ini kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau
untuk data epidemiologi penyakit.
e. Pekerjaan
Bila seorang dokter mencurigai terdapatnya hubungan antara penyakit pasien dengan
pekerjaannya, maka tanyakan bukan hanya pekerjaan sekarang tetapi juga pekerjaan-
pekerjaan sebelumnya.
f. Perkawinan
Kadang berguna untuk mengetahui latar belakang psikologi pasien
g. Agama
Keterangan ini berguna untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh (pantangan)
seorang pasien menurut agamanya.
h. Suku bangsa
Berhubungan dengan kebiasaan tertentu atau penyakit-penyakit yang berhubungan
dengan ras/suku bangsa tertetu.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan atau yang paling berat sehingga mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis. Tidak jarang pasien datang dengan beberapa keluhan sekaligus, sehingga seorang dokter harus jeli dan cermat untuk menentukan keluhan mana yang merupakan keluhan utamanya. Pada tahap ini sebaiknya seorang dokter sudah mulai memikirkan beberapa kemungkinan diagnosis banding yang berhubungan dengan keluhan utama tersebut. Pemikiran ini akan membantu dalam mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dalam anamnesis selanjutnya. Pertanyaan diarahkan untuk makin menguatkan diagnosis yang dipikirkan atau menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan diagnosis banding.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Dari seluruh tahapan anamnesis bagian inilah yang paling penting untuk menegakkan diagnosis. Tahapan ini merupaka inti dari anamnesis. Terdapat 4 unsur utama dalam anamnesis riwayat penyakit sekarang, yakni : (1) kronologi atau perjalanan penyakit, (2) gambaran atau deskripsi keluhan utama, (3) keluhan atau gejala penyerta, dan (4) usaha berobat. Selama melakukan anamnesis keempat unsur ini harus ditanyakan secara detail dan lengkap.
Kronologis atau perjalanan penyakit dimulai saat pertama kali pasien merasakan munculnya keluhan atau gejala penyakitnya. Setelah itu ditanyakan bagaimana perkembangan penyakitnya apakah cenderung menetap, berfluktuasi atau bertambah lama bertambah berat sampai akhirnya datang mencari pertologan medis. Apakah munculnya keluhan atau gejala tersebut bersifat akut atau kronik, apakah dalam perjalanan penyakitnya ada faktor-faktor yang mencetuskan atau memperberat penyakit atau faktor-faktor yang memperingan. Bila keluhan atau gejala tersebut bersifat serangan maka tanyakan seberapa sering atau frekuensi munculnya serangan dan durasi atau lamanya serangan tersebut.
Keluhan atau gejala penyerta adalah semua keluhan-keluhan atau gejala yang menyertai keluhan atau gejala utama. Dalam bagian ini juga ditanyakan usaha berobat yang sudah dilakukan untuk penyakitnya yang sekarang. Pemeriksaan atau tindakan apa saja yang sudah dilakukan dan obat-obat apa saja yag sudah diminum.
4. Riwayat Penyakit dahulu
Seorang dokter harus mampu mendapatkan informasi tentang riwayat penyakit dahulu secara lengkap, karena seringkali keluhan atau penyakit yang sedang diderita pasien saat ini merupakan kelanjutan atau akibat dari penyakit-penyakit sebelumnya.
5. Riwayat penyakit Keluarga
Untuk mendapatkan riwayat penyakit keluarga ini seorang dokter terkadang tidak cukup hanya menanyakan riwayat penyakit orang tuanya saja, tetapi juga riwayat kakek/nenek, paman/bibi, saudara sepupu dan lain-lain. Untuk beberapa penyakit yang langka bahkan dianjurkan untuk membuat susunan pohon keluarga, sehingga dapat terdeteksi siapa saja yang mempunyai potensi untuk menderita penyakit yang sama.
6 Riwayat Kebiasaan/Sosial
Beberapa kebiasaan berakibat buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menjadi penyebab penyakit yang kini diderita pasien tersebut. Biasakan untuk selalu menanyakan apakah pasien mempunyai kebiasaan merokok atau minum alkohol. Tanyakan sudah berapa lama dan berapa banyak pasien melakukan kebiasaan tersebut. Pada masa kini bila berhadapan dengan pasien usia remaja atau dewasa muda harus juga ditanyakan ada atau tidaknya riwayat penggunaan obat-obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi dan lai-lain.
7. Anamnesis Sistem
Anamnesis sistem adalah semacam review dimana seorang dokter secara singkat dan sistematis menanyakan keluhan-keluhan lain yang mungkin ada dan belum disebutkan oleh pasien. Keluhan ini mungkin saja tidak berhubugan dengan penyakit yang sekarang diderita tapi mungkin juga merupakan informasi berharga yang terlewatkan.
Kesimpulan Anamnesis
Pada akhir anamnesis seorang dokter harus dapat membuat kesimpulan dari anamnesis yang dilakukan. Kesimpulan tersebut berupa perkiraan diagnosis yang dapat berupa diagnosis tunggal atau diagnosis banding dari beberapa penyakit. Kesimpulan yang dibuat haruslah logis dan sesuai dengan keluhan utama pasien. Bila menjumpai kasus yang sulit dengan banyak keluhan yang tidak dapat dibuat kesimpulannya, maka cobalah dengan membuat daftar masalah atau keluhan pasien. Daftar tersebut kemudian dapat digunakan untuk memandu pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penunjang yang akan dilaksanakan, sehingga pada akhirnya dapat dibuat suatu diagosis kerja yang lebih terarah.
The Great of wonders
Senin, 22 Februari 2016
Kamis, 23 Oktober 2014
KIR OSAKA KEMBALI BERJAYA
Sukseskan Indonesia Inovatif
Lantunan semangat anggota Karya Ilmiah Remaja (LKIR) di SMA Negeri 1 Kuta Selatan terus menunjukan kebolehannya dalam menulis karya tulis dan melakukan penelitian ilmiah di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakata sekitar sekolah maupun desa.
Pemikiran kreatif yang timbul bukan datang begitu saja, enuh pengorbanan, kerja keras, usaha, dan doa yang selalu dipanjatkan agar memperoeh hasil yang baik. maka dengan mengadakan kegiatan yang positif memalui ekstra KIR di Osaka maka dapat mengembangkan implementasi pendidikan kreatif sebagai landasan Kurikulum 2013 yang telah dilaksanakan tahun ini. Semoga dengan ditingkatkanya sekalilagi minat siswa untuk menulis maka timbullah orang dengan keahlian yang mulia tersebut. Untuk teman-teman di Osaka diharapkan untuk membuadakan aktivitas menulis dan membaca sebagai tonggak memajkan bangsa ini kedepan. Dengan prestasi yang telah diraih di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, maupun Nasional dari tim KIR. Kita berjuang untuk Osaka....
Terima Kasih, semoga semangat ini dapat ditularkan ke warga sekolah dan seluruh siswa di Indonesia.
Kamis, 07 Agustus 2014
Cerpen Bahasa Bali Modern (Satwa Bawak 2014) dengan judul Semangah
SEMANGAH
(Semanget Krané Jengah)
Olih Agung Bagus Sista Satyarsa
Sisia Kelas XI IPA 1, SMAN 1 Kuta
Selatan
Petengé ento sepi
jampi, kadirasa jangkrik buka ketebin tan wénten
pakrik-krik. Gulem nyaputin langit, ngawinang bulan lan bintangé tan sida
kacingak saking soring langit. Katak lan dongkang saling pasautin kadi rasa ngajap-ajap
mangda Sang Hyang Wisnu digelis medal saking langité, apan jagate
sue tuh gaing lahru kangkang sangkaning panes sasih kadasané. Galahé punika sakadi
nyarengin metengin keneh tiange. Kanti tiang ten prasida masaré petengé ento.
Adan tiang I Made Kerta Sanjaya.
Timpal-timpalé biasa ngaukin Jaya. Tiang asli uling Batu Bolong,
nutug I bapa tugas dinas. I bapa tugas ring Kantor Camat Kuta. Mémén tiangé
suba tusing nu uli tiang mara kelas satu SMP. Kone, I mémé ngalahin mati sawiréh
ada ané nyakitin. Maidehan suba aliyanga dokter, kudang balian kaden taén
takonina. Asilné nihil. Nak mula ja pajalan idup adané, apin kenkenang suba
kadung sasuratan Widhi.
Beli ngajak mbok tiangé kembar uli
mare lekad. Pada – pada dueg, kanti di SMA milunin Olimpiade Akutansi ka
nasional. Jani suba ngalain ka Singapore, Kuliah nyemak beasiswané. Tiang
jerih tekén Beli lan mbok tiangé, maan ka Singapore.
Jani tiang kuliah ring Universitas
Udayana ( UNUD). Suba semester 6, Fakultas
Ekonomi. Buin kesep dogen tiang sampun dadi magae. Tiang madue cita-cita dadi wiraswasta. Di kuliah, tiang tusing
belog – belog sajan. Goba masih tusing jelek – jelek sajan. Yan ngalih tunangan
pasti maan déén. Nanging, tetep tiang ngutamanyang palajahan. Tiang maan tugas
KKN di Peken Séngolé .
Semengan jani tiang lakar majalan
ka Peken Séngol, negakin montor astréa tua tetamiang I pekak. Setondén ka pekén,
tiang nyemput Déwadé malu, timpal ajak negak di kelas. Padalem tiang ya majalan
padidi, Déwadé ring kuliah kegolongin murid kurang mampu. Nanging ia jemet,
seleg malajah, diastun penampilanné pacul lan dekil.
Pekenne sing joh ring pondok tiangé.
Neked ring Peken Séngolé, tingalin tiang peken tuara ma atur. Bonné ngas, ada
andih mebo be siap tekén sane lianan. Jalanné becek, krana ibi ada ujan bales
pisan misi kebyah – kebyah sekadi tatit ring langite. Ené peken nu tradisional,
enu nganggo sistem mayah sane nganggé nukar – nukar barang utawi barter istilah
gaulné.
Liu pesan anak ané mablanja ditu,
tiang kanti ten ngidang ngeliwat ngiring Déwadé. Ring bucun pekenné ada anak
luh ngelur “Tuulllungg .... tuuuullluung .... tulung”, miriban dompetné ada
anak nyopét. Tiang malaib kema enggal – enggal, sekadi cicing nyaragin tulang.
“Punapi Luh, ada napi niki ?” Tiang
tangkejut.
“Niki dompet tiangé ilang.” Ia masaut
sambilang ngeling.
“Ten napi, sampunang ngeling luh.
Suba ada né nguber anak sané ngemaling ento.” Nyen adan Luhé ?” Tiang matakon.
“Penting nakonang adan tiangé?” ia
nyautin cuék.
“Aa. Yan sing kenal sing bisa
sayang. Kadén kéto anak ngorahang, Luh.”
“Yan seken dot nawang, alih –
alihin pedidi adan tiangé.” Mimih, cuék gati. Sakewala yan tolih uli sebengne
ia anak nyaru – nyaru dogén.
Penasaran tiang ngajak anaké jegég
ento. Oooo.... Ni Luh Ratih adané. Ngancan makelo, ngancan demen tiang tekén Luh
Ratih. Kriteria tiange sajan. Sagét tiang maan némbak ia dadi tunangan tiangé,
beh sing terimana matah – matah tiang. Bungklang – bungkling kanti glalang –
gliling. Di pangnem mingguné mara tiang terimana. Demen atin tiangé. Jani suba
nem bulan tiang matunangan ngajak Luh Ratih.
Tunangan tiangé, Luh Ratih anak
ubuh. Uli cerik idup ngajak dadongné, Dadong Séngol. Luh Ratih mula dueg, ia
maan kedokteraan ring UNUD. Semenganne ento, tiang tundenna ngateh ia ngopin
dadongne ring peken séngolé. Sebarengan, tiang wenten tugas kuliah irika. Ngaé
skripsi ané tebel sajan, makumpul buin abulan.
Di arep pekenné, liu pisan supir bémo
sane ngantré ngalih muatan. Koné, semengan séngole dadi penambangan montor.
Tongos supiré ngalih pangupajiwa. Tongos supiré ngrebutin penumpang.
Tiang tekén Luh Ratih ka tongos dadongné
madagang. Kamarné, ané maukuran tetelu kali
patpat meter. Sing sida ngalih tongos ané gedénan, karana sing ngelah
pipis anggonne ngontrak. Kanti sanja tiang ngopin Luh Ratih sekewala dadongné
sing ada dini. Maan dogén kesempatan ajak dadua dini, pada saling gombal -
gombalan, saling mecanda.
Suba jam pitu petengné, tiang
ngateh Luh Ratih nuju pondokné. Ngancan peteng guminé, ngancan sepi jalané nuju
pondok Luh Ratih.
“Sampun neked jumah luh, ingetang
SMS setonden masaré.”
“Ae, santé gén Beli. Adéng – adéng
masih dijalané.”
“Ndén malu luh jegég. To apa di ungkul
– ungkulné?” Tiang nepukin samar – samar, cara apa kaden.
“Aah, dadong tiange ento. Tiang suba
antosanga, tiang macelep malu, ingetang adéng – adéng di jalané.”
“Nah-nah .” Tiang lantas ngebut
ngegas montor astréané. Ratu Bhatara, napi wawu aéng gati. Dadong Séngol? Cucuné
jegég, dadongné aéng. Bah kebayang – bayang teken Dadong Séngol. Teked jumah
tiang enggal – enggal ka kamar.
“Semengan jani tiang lakar majalan
ka kampus bareng ngajak Luh Ratih.” Keneh tiangé ngateh tunangan ka kampus
apang sabarengan. Masih paak kampusné Luh Ratih tekén tongos tiangé.
Tiang suba suud maganti seragam,
suahin tiang bok tiangé. Sing engsap ngango lengis miik.
“Pa, ngidih pis bekel, Mayah SPP
bulan jani masi tondén.” Sabilang semengan dong keto malu. Dija – dija pasti
murid – muridé nagih bekel kén reramané setondén majalan masuk.
“Ibi kadén suba baang sekét tali
anggon bekel,” bapan tiangé nyautin sambilanga negak mamaca koran di kursiné.
“Béh, inget masi bapa. Nah, lamun
keto ngidih pis anggon mayah SPP dogén.”
“Ne Dé. Selegan malajah Dé, pang
maan cita – cita Madéné dadi wiraswasta ané melah.” Saut bapan tiangé ane ngisi
cangkir misi kopi.
“Aa, De berusaha masi Pa! Lamun kéto,
Made lakar majalan malu.”
“Adéng – adeng di jalan.”
“Inggih Pa.”
Tiang nyatater montor tiangé,
lantas ngalih Luh Ratih. Di pondokné Luh Ratih, tingalin tiang sedek mabanten.
Péh, anteng sajan tunangan tiangé . Sampun dueg, jegég, tur subakti majeng ring
Widhi.
Teeettttt.....
ttteeeeettttt....tttteeeeettt...... idupang tiang bel montoré.
“Lanturan malu mabanten Luh.” Tiang
nyapatin. Nu negak duur sadel montoré sambil ngisiang HP. Luh Ratih makeyem
nolih tiang.
“Sapunapi jeroné?” Aduh, makesiab
tiang ada anak tua masaut durin tiangé.
“Ti....tiii...ang timpalné Ratih...”
keto pesaut tiangé nyeh, ngejer, tur ngetor.
“Antosang dumun, Ratih kari
mabanten,” keto anak tua ento masaut.
Peh, aéng sajan tiang nolih anaké
tua ento. Bibihne barak masigsig mako, nyonyo ngelanting malilit anteng kamen
cerik, bok magambahan.
Limang menit tiang duur sadel
montoré, Ratih nyapatin tiang.
“Sampun Ratih.”
“Aa, sampun Jaya. Lan jani majalan.”
“Imang menék Luh.”
“Inggih Beli.”
Tiang ngidupang montor. Tingalin
tiang jam di liman liangé suba jani pitu kuang seperempat.
“Luh, nyen busan anak tua di pondok
ento?”
“Nika dadong tiangé, ne sai omongan
tiang.
“Owww... ento.”
“Sampun teked di kampus.” Tiang mrasa demen
gati maan ngateh Ratih ka kampus.
“Suksma Beli Jaya. Tiang masuk
maluan. Adéng – adéng di jalan.” Sambilang makenyem nolih tiang.
Mulih uli kampus, tiang énggal – énggal
nyemak montor ngalih Luh Ratih. Lan ngegas ngango montor astréané, neked di
pondok. Dadongné maakin tiang tekén Ratih.
“Ratih, ateh dadong ka peken Séngolé.”
Liu ngaba aba – abaan.
“Bareng sareng tiang dong. Tiang
masi ngeliwat ditu.” Keto tiang masaut.
“Suksma beli.” Ratih masaut demen.
“Mai dong bareng tiang.” Tiang
ngemaang helm apang aman di jalané.
“Nah Gus.” Masaut demen.
“Adeng – adeng di jalan beli,
dong.” Sambilang nekap pagehan pondokné.
Teked di peken, tiang ngopin ngaba
aba – abaan dadongné. Baat gati, aba- abaanné niki. Siteng masi I dadong, suba
tua nu masi ngaba ane baat – baat. Cara ngaba batu. Adané dogen ngalih
pangupajiwa di guminé.
Sampun
ring tongos I dadong madagang, tiang lantas mapamit lakar mulih krana basang
tiangé suba makrisikan.
“Adeng
– adeng di jalan gus.” Keto pabesen dadongé teken tiang.
“Nggih
dong, suksma.”
Petengé
jani tiang majanji lakar malali ka pameran di alun – alunné ngajak tunangan
tiangé. Tiang masi majanji lakar ngalih tunangan tiangé Ratih ring pondokné.
Tiang suba siaga, nganggo keméja kotak – kotak majalér jean dawa.
Teeettttttt.....teeeetttttttt...
idupang tiang bel montoré sambilang maca sms di HPné.
“Sampun
Beli.” Teka Ratih nyapatin.
“Sampun
mabanten? Sampun ngorahang tekén dadongné?” Takonin tiang.
“Sampun
Beli.”
“Nah..”
Lan malancaran ka alun – alun.
Sawetara
suba jam dasa, tiang mulih. Ngancan peteng, ngangsan sepi di jalanané. Nanging
tiang lakar ngateh Ratih malu mulihné.
“Suksma
Beli, suba ngajak malali ka alun – alunné.”
“Nggih
suksma mawali, beli mulih nah. Ingetang SMS binsep satondén masaré.”
“Nggih
Beli. Adeng – adeng di jalan.”
Teked
jumah tiang énggal – énggal ka kamar. Nuju semengan tiang marasa awak tiangé
panes. Bapan tiangé ngemaang tiang ubad, baanga pil tablet. Panes krana tiang
gelem mendadak. Sayan panes awak tiangé, bapa lantas ngajak tiang ka dokter.
Mara cék teken dokter panes né telung dasa sia. Kanti mainpus, lan opname di umah sakit.
Sampun
limang dina tusing masuk ka kampus. Liman tiangé ten nyidang ngisi HP anggon
nge-SMS timpal lan Luh Ratih. Panes lan kokoan nu. Suba liu ngajeng ubad, nanging
tusing seger. Bapa repot nongosin tiang di umah sakit.
Sanjané,
Luh Ratih teka liu ngaba jaja baanga tiang. Demen atin tiangé ada anak luh jegég
ané teka. Sakéwala, bapan tiangé tusing demen teken Ratih. Bapa tusing ngemaang
tiang matunangan ngajak Luh Ratih krana dadongné ngaé tiang sakit. Ratih mulih
ngeling nyakitang ati.
“Bapa!!
Tusing dadi ngorahang buka keto tekén Ratih. Tiang tusing demen ada anak
mapisunaang Luh Ratih.”
“Ia
ané ngaé Madé kéné. Suud suba matunangan ngajak ia.” Bapa masaut nengkik ngajak
tiang.
“Sakewala
tiang tresna ngajak Luh Ratih, Pa!!”
“Bapa
tetep sing demen Madé matungangan ngajak ia.”
Dokter
ngedor di kamar tiangé. Dokteré ngaba kertas sane misi hasil cék getih tiangé.
Dokter ngorahang tiang kena penyakit demam berdarah, penyakit uling legu.
“Tiang
tusing sakit krana dadongé Ratih, bapa sing dadi nuduh ané tidong – tidong
teken Ratih.”
“Nah,
bapa pelih Dé. Enggalin seger, nyanan bapa ngateh ke umah Ratih ngidih pelih.”
Bin telung dinané
tiang dadi mulih krana suba seger. Tiang lan bapa menek nganggo montor asréane
nuju ka pondok Ratih. Ngidih pelih krana bapan tiangé ngorahan Ratih sané
tidong – tidong. Uling telung dina pidan Ratih tusing taen nengokin tiang. Teked
di pondokné, tiang tusing ningalin Ratih lan dadongné.
“Om Swastyastu .....” sing
ada anak nyautin.“Om Swastyastu......”.
Sepi jampi, sing ada makisikan anak nyanga bedik di
pondokné. Liunan munyin siap ngajak sampi ané kaubuhin baan Dadong Séngolé. SMS
sing balesne teken Luh Ratih.
Tiang mulih ngajak I bapa
marasa salah teken Ratih. Buin maniné,
tiang kema tusing ja ketemu ngajak Luh Ratih. Biin teluné, di peken séngolé
tiang nepukin Ratih mablanja. Tiang enggal malaib nyapatin Luh Ratih, ia malah
malaib ngencol. Tiang nuutin nganggo montor ka pondokné.
“Ratih, né beli. Beli ngidih
pelih krana bapan beline.. Ratih....” Tiang ngedor – ngedor jelanan di pondokné.
“Ngengkeniné beli mai,
buin nyakitin atin tiange.” Sambilanga ngeling.
“Ampakin jelananné Luh,
beli lakar ngomong.” Sambilang SMS bapa apang enggal – enggal mai.
Bapan tiangé lantas
teka. Mara ampakina jelanané tekén Luh Ratih. Ia ngeling.
“Mawali tiang ngidih
pelih. Sakéwala Beli, dadong tiangé sakit keras uli puan.” Sambilang ngajak
tiang sareng bapan tiangé macelep ka kamarné.
“Dong, tiang sareng
bapan tiangé mai ngidih pelih. Krana ngorahang dadong sané tidong –tidong.”
Tiang maakin Dadongné. Ratih makenyem ngajak tiang, tur nu ngetelang yéh mata.
Dadong Séngolé tolih
tiang lemes lantas mamunyi, “ Luh, selegang mayadnya, da engsap ring Widhi, lan
semanget krana jengah. Gus, ajak Luh Ratih lamun pada saling treana. Ampurayang
dadong tusing nyidang buin ......” pegat munyiné Dadong Séngol, bah ya.
“Dadong.....
Dadong...” Luh Ratih ngetélang yéh mata.
Tiang tusing prasida ngudiang – ngudiang.
Buin maniné dingeh
tiang Dadong Séngol suba mulih ka guminé wayah. Makejang dadi pelih tiang
sareng bapan tiangé. Luh Ratih jani sing ngelah nyén – nyén di guminé. Bapan
tiange ngidih pelih teken Luh Ratih tur majanji masomah. Ritakala suba tamat
kuliah tur magaé. Bagia pesan keneh tiangé.
≈PUPUT≈
*juara 3 cipta cerpen Bahasa Bali se-Kabupaten Badung
Langganan:
Postingan (Atom)